Terganggunya Kesehatan Akibat Bullying
Bullying adalah
bentuk intimidasi atau penindasan dari satu individu atau kelompok yang lebih
kuat. Bullying berbeda dengan konflik atau pertengkaran pada umumnya,
karena dilihat dari tingkat pengulangan dan adanya kekuatan yang tidak
seimbang antar kedua belah pihak yang terlibat. Dalam bullying, ada niat untuk
menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan bagi korban, secara fisik maupun
emosional. Cakupan aksi penindasan sangat luas, mulai dari menendang, menampar,
tawuran, menjambak, memukul, membentak, meneriaki, memaki, menghina,
mempermalukan, menolak, mencela, merendahkan, menghujat, mencibir, mengisolasi,
hingga tindakan yang bernada pelecehan seksual.
Ketika seseorang merasa stres dengan ancaman konstan dari bullying,
respon “fight or flight” mereka akan bekerja. Ketika ini terjadi, otot-otot
menegang, jantung berdebar kencang, dan tubuh melepaskan adrenalin dan
kortisol. Seiring waktu, reaksi ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan
menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Masih belum jelas bagaimana pengalaman
bullying di masa kecil diterjemahkan ke dalam masalah kesehatan jangka panjang.
Dikutip dari The Conversation, sebuah studi menemukan bahwa korban
bullying memiliki tingkat protein dalam aliran darah (protein C-reaktif/CRP)
mereka yang berhubungan dengan melawan infeksi — bahkan sampai usia dewasa
muda. Tingginya kadar CRP merupakan respon umum yang menunjukkan bahwa tubuh
sedang bekerja baik melawan infeksi, bereaksi terhadap cedera, atau menanggapi
kondisi kronis seperti arthritis. Penelitian ini menunjukkan bahwa CRP juga
dapat meningkat pada kelompok orang yang mengalami penganiayaan oleh orang
dewasa di masa kecil mereka. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh bereaksi dalam
cara yang mirip dengan “stres beracun” seperti halnya terhadap infeksi.
Dalam banyak kasus, orangtua dan guru mengabaikan gejala seperti
sakit perut dan sakit kepala pada anak-anak dan menganggap bahwa mereka
berpura-pura demi menghindari pergi ke sekolah atau berpartisipasi dalam
kegiatan ekstrakurikuler. Namun studi menekankan bahwa gejala-gejala ini harus
ditangani secara serius, karena mereka bisa menuntun anak terhadap masalah lain
yang lebih serius. Selain itu, bertanya pada anak tentang gejala fisik mereka
dapat membantu oran tua dan dokter mengetahui apakah ia sedang ditindas di
sekolah, sebagai cara lain agar anak bisa lebih terbuka mengenai pengalamannya.
Tidak jarang korban bully menyembunyikan penderitaan mereka di sekolah dari
orangtua. Kita perlu meninggalkan persepsi bahwa tindakan bullying tidak
berbahaya dan menjadi bagian alami dari proses tumbuh kembang anak. Intimidasi
dan penganiayaan harus dianggap sebagai bentuk lain dari stres beracun yang
efeknya memiliki potensi besar pada kesehatan mental dan fisik seseorang. Efek
ini telah berulang kali diamati oleh ratusan studi di luar sana, baik pada masa
kanak-kanak dan juga dewasa muda.
Sumber : https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/dampak-bullying-pada-kesehatan-mental-dan-fisik-anak/
Terimakasih infonya
BalasHapusSama samaaa
Hapusterimakasih infonya bermanfaat sekali
BalasHapusSama samaaa
Hapusngeri juga:( terimakasih infonya
BalasHapusSama samaaa
Hapusserem juga ya bullying ini
BalasHapusBetulll, jangan lupa perlakukan teman dengan baik yaa😊
Hapus